Ada Potret Buram di 17 Tahun Reformasi

No comment 1414 views

tembok-merah-putihinfoislami - Tak terasa di bulan ini genap sudah kita 17 tahun menjalani reformasi. Mei 1998 semua elemen bangsa sepakat untuk melaksanakan 6 agenda reformasi yang disodorkan mahasiswa, yaitu akan melakukan penegakan supremasi hukum, pemberantasan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), mengadili Soeharto dan kroninya, mengamandemen konstitusi, mencabut Dwifungsi TNI/Polri, dan memberikan otonomi daerah seluas-luasnya.

Kita juga telah mematok batas toleransi masa transisi reformasi hingga Pemilu 2014. Pemilu 2014 kita harapkan bisa menghasilkan kepemimpinan baru yang membawa bangsa dan negeri ini ke fase baru. Sebab, kepemimpinan bangsa yang muncul dari era revolusi sudah berakhir. Tanpa menihilkan hal-hal positif yang kita dapat dari 17 tahun reformasi, keadaan negeri terasa masih jalan di tempat.

Hampir semua lembaga negara terlihat lemah. Lembaga Kepresidenan berjalan seperti mobil dengan stiker “Baru Belajar”. MPR hanya menjadi lembaga yang menyelenggarakan sosialisasi 4 Pilar. DPR masih belum mampu menghapus aroma “busuk” yang dituduhkan masyarakat. Begitu juga Mahkamah Agung (MA). Masih belum mampu menghapus stigma adanya mafia hukum. Bahkan yang membuat miris hati, dalam usianya yang masih seumur jagung Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai anak kandung Reformasi runtuh kredibilitasnya akibat terjangkit penyakit yang mengrogoti MA.

Partai-partai politik yang diharapkan menjadi tempat pengkaderan pemimpin bangsa, pun gagal melakukan kaderisasi. Praktik oligarki terjadi. Akibatnya, hampir semua partai saat usai menyelenggarakan musyawarah nasional, pasti melahirkan partai baru. Calon pemimpin partai yang kalah tarung memilih keluar, mendirikan partai baru, dan membangun oligarkinya sendiri.

Bagaimana dengan kondisi rakyat? Rakyat masih tetap merasa negeri ini outopilot. Tidak merasa ada pelindungan negara dalam menghadapi pertarungan bebas di era globalisasi. Mereka harus membeli kebutuhan hidup dari impor. Maklum, Pemerintah sudah membuka pintu selebar-lebarnya bagi negara luar untuk memasarkan barangnya ke Indonesia. Sementara, industri dalam negeri tidak mampu bersaing dengan industri luar. Ekspor kita masih barang mentah.

Rakyat kecil makin terjepit. Jadi buruh, di-PHK. Pabrik-pabrik tutup atau dipindah ke Vietnam. Jadi pedagang kaki lima, digusur. Tidak ada area usaha dengan sewa murah yang disediakan bagi mereka. Sementara pedagang warung kecil harus bersaing dengan pasar swalayan yang menyebar ke pelosok kampung dan beroperasi 24 jam. Tak heran jika tidak sedikit orang yang tidak tahan dengan himpitan hidup, mereka memilih melacur atau menjadi pengedar narkoba.

Wahai, masih adakah yang menggenggam janji Reformasi? Apakah potret buram di 17 tahun Reformasi ini masih bisa memberi toleransi sampai 3 tahun lagi?

author
No Response

Leave a reply "Ada Potret Buram di 17 Tahun Reformasi"