Al-Quran dan Hadits Bukan Produk Jurnalistik

al-quranDalam jurnalistik, posisi dan peran Al-Quran dan Hadits adalah sebagai narasumber (news sources) atau referensi. Maka berita atau tulisan bersumberkan keduanya termasuk produk jurnalistik. Catatan ASM. Romli.

AL-QURAN dan Hadits Bukan Produk Jurnalistik. Demikian disampaikan Presiden Southeast Asian Press Alliance, Eko Maryadi, dalam diskusi "Kebebasan dan Penistaan" di Hall Dewan Pers, Jakarta, Senin (4/5).

"Ayat Al-Quran tidak bisa diperdebatkan, ini bukan produk jurnalistik. Ada di jalan masing-masing. Jurnalistik produk manusia, Al-Quran produk keyakinan. Jurnalistik adalah fakta yang direkonstruksi sampaikan kepada publik melalui media yang berbeda-beda," paparnya seperti dikutip beritasatu.com.

Eko benar. Al-Quran dan hadits adalah dua sumber ajaran Islam. Dalam jurnalistik, posisi dan peran keduanya bukan sebagai produk, tapi narasumber (news sources). Saat media-media Islam menulis artikel berdasarkan ayat Quran dan hadits, maka artikel itu adalah produk jurnalistik (karya manusia) dengan berisi interpretasi atau pemahaman sang penulis tentang ayat Quran/hadits.

Dengan demikian, jika ada pendapat bahwa situs-situs Islam bukan produk jurnalistik karena tulisannya banyak berisi ayat Quran dan hadits, maka salah besar! Sekali lagi, Quran dan hadits adalah sumber atau referensi.

Sama halnya dengan tulisan berisi opini yang analisisnya berdasarkan hasil survei atau pendapat seorang pengamat/ahli. Bedanya, kebenaran hasil survei atau pendapat pakar itu relatif sedangkan kebenaran Al-Quran dan hadits shahih itu mutlak dalam perspektif Islam.

Dalam konteks berita, Al-Quran dan hadits juga bisa disebut fakta. Ketika wartawan menulis, misalnya, judi itu dilarang dalam Islam, seraya mengutip ayat al-Quran tentang larangan judi, maka berita tersebut termasuk karya jurnalistik karena mengabarkan fakta bahwa ajaran Islam melarang judi.

Sama halnya dengan berita, misalnya, seorang pengamat mengatakan rezim pemerintah sekarang gagal melindungi kebebasan pers. Itu pun karya jurnalistik yang mengabarkan pendapat pengamat tentang kinerja pemerintah.

Saat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memblokir sejumlah situs Islam, beberapa kalangan menilai situs-situs Islam itu bukan produk jurnalistik. Alasannya, karena berisi ayat-ayat Quran dan hadits.

Sebuah pandangan yang keliru karena Quran dan hadits adalah sumber berita (referensi), sebagaimana berita umum yang biasa mengutip atau memberitakan hasil survei atau pandangan pengamat atau pakar.

Yang terjadi adalah banyak media Islam, juga media umum, yang tidak menaati kode etik jurnalistik atau karya tulis yang dipublikasikannya tidak memenuhi Standar Jurnalistik. Wasalam. (www.baticmedia.com).*

-- ASM. Romli, Pendiri & Ketua  BATIC.  Follow @romeltea

author
ASM. Romli aka Romel Tea. Praktisi media, trainer komunikasi praktis, blogger. Dosen Praktisi di Jurusan Komunikasi UIN SGD Bandung. Tinggal di Bandung. Homepage: www.romeltea.com
No Response

Leave a reply "Al-Quran dan Hadits Bukan Produk Jurnalistik"