Hubungan Keberkahan dengan Bertambahnya Sesuatu (2)

bunga tulipInfoislami - Di dalam Shahih Muslim, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebut tentang turunnya Isa putra Maryam pada akhir zaman bahwasanya tatkala itu terjadi keberkahan, kemudian dikatakan kepada bumi, “Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalikanlah keberkahanmu.”

Maka ketika itu sejumlah orang dapat merasa kenyang hanya dengan memakan sebiji buah delima dan dapat berteduh dengan kulitnya, susu pun diberi berkah, sehingga susu unta yang akan melahirkan cukup untuk satu kelompok manusia dengan jumlah yang banyak, susu sapi yang akan melahirkan cukup untuk satu kabilah manusia, dan susu kambing yang akan melahirkan cukup untuk satu keluarga manusia.

Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata,

“Sungguh, dahulu biji-bijian, baik gandum atau lainnya lebih besar dibanding yang ada sekarang, sebagaimana keberkahan yang ada padanya (biji-bijian kala itu-pen) lebih banyak.”

Imam Ahmad telah meriwayatkan melalui jalur sanadnya, bahwa telah ditemukan di gudang perbendaharaan khalifah Bani Umayyah sekantung gandum yang biji-bijinya sebesar biji kurma, dan bertuliskan pada kantung luarnya, “Ini adalah gandum hasil panen masa keadilan ditegakkan.” Kisah ini disebutkan di dalam Musnadnya berupa sebuah atsar yang diriwayatkan olehnya.

Abu Daud As-Sijistani berkata, “Aku mengukur mentimun di Mesir mencapai tiga belas jengkal, dan aku melihat dua potong buah limau (sejenis jeruk nipis) yang telah dipotong diatas unta dan ditempatkan pada tempat seperti dua kantong.”

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Setiap waktu, harta, kehormatan ataupun ilmu yang dipergunakan untuk bermaksiat kepada Allah maka hal itu akan membuatnya rugi, dan tidaklah ada hal yang dapat membuatnya beruntung baik itu berupa waktu, harta , kekuatan, kehormatan ataupun ilmu serta amal perbuatan melainkan jika hal itu dipergunakan dalam hal ketaatan kepada Allah.

Oleh karenanya, ada di antara manusia yang hidup di dunia ini selama seratus tahun atau mendekatinya namun pada hakikatnya waktu efektif yang dimilikinya hanyalah dua puluh tahun saja dan demikian pula ada di antara manusia yang memiliki perbendaharaan emas dan perak namun pada hakikatnya harta yang sebenarnya dia miliki tidak lebih dari seribu dirham saja atau mendekatinya, demikian pula halnya dengan kedudukan dan ilmu.

Di dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwasanya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

“Ketahuilah sesungguhnya dunia itu terlaknat dan segala isinya pun juga terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang berkaitan dengannya, dan orang yang alim atau orang yang belajar.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam Shahihnya dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shalallahu Alahi wa Sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya, atau ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim.”

(Dr. Amin bin Abdullah Asy-Syaqawi)

author
No Response

Leave a reply "Hubungan Keberkahan dengan Bertambahnya Sesuatu (2)"