Keteladanan Kepribadian Nabi Ibrahim AS Untuk Solusi Permasalahan Ummat- Khutbah Idul Adha 1437 H

kabah-kuInfoIslami - Khutbah Idul Adha 1437 H

 

Keteladanan Kepribadian Nabi Ibrahim AS Untuk Solusi Permasalahan Ummat

Oleh: Ust. Aswalludin, SE., ME[1]

 الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum muslimin wal muslimaat rahimakumullah!!!

Mari kita tingkatkan taqwa dan syukur kita pada Allah atas segala limpahan rahmat dan nikmat-Nya pada kita. sampai detik ini, Allah masih melimpahkan berbagai rahmat dan nikmat-nya pada kita semua; nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat bisa beribadah sesuai sunnah rasul Muhammad saw dan berbagai nikmat lain yang tidak mungkin kita hitung jumlahnya. kita berdo’a semoga nikmat-nikmat tersebut tetap Allah pelihara dalam diri kita sampai akhir hayat kita. Amin.

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah seperti pagi hari ini umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan haji melakukan shalat iedul adh-ha. kemudian diteruskan dengan ibadah qurban sampai hari-hari tasyriq yakni, 11, 12 dan 13, Dzulhijjah.

Shaum ‘arofah, sholad iedul adh-ha, memotong hewan qurban merupakan rangkaian ibadah yang terkait langsung dengan ibadah haji. rangkaian ibadah tersebut tidak bisa dilepaskan dari kehidupan nabi Ibrahim AS. Sebab beliau adalah pelaku pertama ibadah haji dan qurban, pendiri ka’bah yang menjadi lambang tauhid serta pendiri kota Makkah seabagai kota yang teraman di dunia sampai hari ini.

Ibadah haji dengan semua rangkaian ibadah yang terkait dengannya adalah ibadah formal yang harus dilakukan secara serentak dan bersama-sama oleh umat Islam. Bagi umat Islam yang melaksanakan haji, mereka memulai kebersamaan itu sejak hari tarwiyah, yakni tgl 8 zulhijjah berkumpul di mina, kemudian tanggal sembilannya wuquf di arofah, setelah maghrib merka menuju muzdalifah untuk mabit sampai subuh, setelah itu mereka menuju mina untuk melakukan jamrotul ‘aqobatul ula, melakukan thawaf ifadah dan sa’i dan seterusnya, serta meneruskan mabit di mina sampai tanggal 12 atau 13 Dzulhijjah serta melakukan aktivitas melontar 3 kali jamroh setiap harinya.

Bagi umat Islam yang tidak melaksakan ibadah haji di seluruh penjuru dunia, mereka melaksanakn shaum arofah pada tgl 9 Dzulhijjah, sholat Iedul Adh-ha pada tgl 10 Dzulhijjah dan diteruskan memotong hewan qurban sampai hari-hari tasyriq berakhir. semua ibadah tersebut merupakan wujud dari ‘aqidah tauhid yang dibawa nabi Ibrahim dan dilanjutkan oleh nabi terakhir, nabi akhir zaman Muhammad saw.

Oleh sebab itu, pemahaman tauhid yang benar dan keyakinan  yang mendalam seperti yang tertanam kuat dalam diri nabi Ibrahim AS, yang kemudian diikuti oleh nabi kita Muhammad saw adalah hal faktor utama yang membentuk warna dan style kehidupan umat Islam di masa lalu, kini dan di masa yang akan datang.

 

Sejak kejatuhan Khilafah Islamiyah Ustmaniyah itulah umat Islam di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali di negeri ini, Indonesia, mulai kehilangan makna tauhid dalam diri mereka sehingga menyebabkan sirnanya pengaruh tauhid dalam kehidupan mereka.

Hal tersebut tercermin hilangnya visi hidup, misi hidup dari dalam diri sebagian besar mereka. akibatnya, mereka juga kehilangan kesatuan kepemimpinan, kesatuan ummat, kesatuan tanah air sehingga tanah air mereka yang membentang dari Maroko sebelah baratnya dan Jakarta sebelah timurnya hancur berkeping-keping menjadi lebih dari 50 negara-negara kecil, yang mayorias penguasanya menjadi boneka kaum kolonial kristen Eropa dan Amerika.. namun, yang lebih mengerikan dan menyedihkan ialah mereka kehilangan Manhajul Hayah (konsep hidup) yang datang dan dirancang tuhan pencipta mereka , yakni Al-Islam dengan segala sistemnya. padahal sebelumnya pernah eksis lebih dari 13 abad lamanya.

Sekiranya umat Islam dewasa ini,mengamalkan Syari’at Alloh meneladani kepetuhan dan kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail AS,niscaya umat Islam akan dianugerahi kemenangan menghadapi musuh – musuhnya,ditinggikan derajatnya serta dinampakkan kemuliaan di hadapan lawan –lawannya.

Mengapa mereka selalu berfikir negatif terhadap agamanya sendiri? Mengapa umat Islam bersikap apriori terhadap Islam, lalu memilih dan memilah manakah dari ajaran Islam yang bisa dilaksnakan tanpa menyinggung rasa kemanusiaan masyarakat, dan tidak dianggap radikal oleh orang kafir. Mereka mencoba merevisi ajaran Islam agar sesuai dengan semangat toleransi ala barat dan tidak bertentangan dengan HAM versi imprialis.

Pada gilirannya, ajaran Islam yang paripurna dan mulia itu malah dibonsai oleh umatnya sendiri. Lihatlah akibatnya, di hadapan orang-orang kafir, bobot umat Islam semakin ringan. Ibarat buih yang mengapung di atas permukaan gelombang, mudah dipermainkan dan diadu domba orang kafir. Tidak percaya diri dengan Islam menyebabkan kaum Muslimin mudah ditaklukkan di banyak sektor kehidupan: politik, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Padahal orang-orang kafir di barat maupun timur, Amerika maupun Eropa, yang mempropagandakan paham demokrasi, selalu mengancam eksistensi umat Islam. Jika mereka memasuki negeri kaum Muslimin, baik sebagai diplomat, tentara maupun pengusaha, adalah untuk menjajah rakyatnya, mengeksploitasi kekayaan alam, menghancurkan moral, dan menghinakan masyarakat yang mulia di negeri itu. Persis intimidasi AS dengan pendekatan stick and carrot: “Jika kalian mengikuti cara hidup kami, akan kami beri dolar, tapi bila kalian melawan dan menolak misi kami akan kami kirimkan rudal.”

الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد …

Inilah potret dan realita sejarah tatkala kaum kafir dan musyrik menghadapi umat Islam:

لَا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ (10)

“Kaum musyrik tidak mau memperhatikan hak ikatan kekerabatan dengan seorang mukmin sedikit pun, walaupun telah diadakan perjanjian. Mereka itu adalah orang-orang yang suka melanggar perjanjian.” [At-Taubah, 9: 10]

Pada masa awal Islam, orang-orang yang memeluk Islam amat dibenci oleh masyarakat Arab Jahiliyah, bahkan diperangi dan diputus hubungan kekeluargaan. Apabila dalam posisi kuat dan menang, orang-orang kafir dan musyrik selalu menindas orang Islam, memperlakukannya secara biadab dan tidak manusiawi. Dan setiap kali mengadakan perjanjian dengan orang Islam, pasti orang-orang kafir berkhianat dan melanggar perjanjian tersebut.

Yang lebih mengherankan, ada di antara mereka berani menghalalkan sesuatu yang nyata-nyata telah Allah SWT haramkan. Misalnya, dengan berbagai alasan, mereka tanpa malu-malu menghalalkan kepemimpinan orang-orang kafir atas kaum Mukmin. Padahal tegas Allah SWT menyatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Hai orang-orang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Sebagian mereka adalah penolong atas sebagian yang lain. Siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, sesungguhnya dia adalah bagian dari mereka (QS al-Maidah [5]: 51).

 

Lalu timbul pertanyaan mendasar dari dalam lubuk hati dan sanubari kita :

Apa yang masih tersisa dari umat ini? Apa yang masih tersisa dari umat ini? Apa yang masih tersisa dari umat ini?

Yang lebih ajaib dan memalukan lagi ialah belum sadarnya penguasa dan petinggi negeri ini untuk bersatu padu membebaskan dan memerdekakan negeri ini dari berbagai belenggu dan persoalan tersebut di atas dan berbagai pengaruh asing untuk mendiskreditkan umat Islam dan menjadikan mereka selalu marjinal. inilah kondisi yang diinginkan oleh musuh Allah, musuh Rasul dan musuh mereka.

Kita pun sering menjumpai para penguasa dan para pejabat yang tidak bersikap pasrah, tunduk dan taat kepada Allah SWT yang telah melarang mereka untuk korupsi. Mereka pun berkali-kali berbohong, melanggar janji dan menipu rakyatnya sendiri. Bahkan mereka tega menzalimi bangsanya sendiri, di antaranya dengan pajak yang berlipat-lipat. UU Tax Amnesty yang baru saja disahkan, misalnya, yang awalnya diniatkan untuk menyasar para pengusaha besar yang banyak mengemplang pajak, disinyalir menyasar pula rakyat biasa yang telah terbebani oleh berbagai pungutan pajak yang amat memberatkan mereka. Padahal Baginda Rasulullah saw. telah bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يَسْتَرْعَى رَعِيَّةً يَمُوْتُ حَيْنَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٌ لِرَعِيَّتِهِ اِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Tidaklah seseorang diangkat untuk mengurus rakyat, lalu mati, sementara ia menipu (menzalimi) rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan bagi dia surga (HR al-Bukhari).

 

Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika ada sinyalemen yang mengatakan bahwa umat ini sedang mengalami krisis tauhid atau krisis aqidah. sinyalemen tersebut sesungguhnya bermuara dari kelemahan dan ketamakan segelintir tokoh, pemimpin dan ulama sendiri terhadap kehidupan dunia. masalah ini semakin nampak kebenarannya jika kita mencermati beberapa fakta berikut ini:

Di tengah kekacauan dan tumpukan masalah yang sedang dihadapi umat, terlihat fenomena aneh tapi nyata dalam kehidupan para tokoh, pemimpin, ulama, kiai, para da’i, baik yang independen atau single fighter, atau yang bernaung dalam kelompok sosial kemsayarakatan, apapunlah namanya.

Fenomena aneh tersebut ialah setiap mereka berlomba-lomba mengejar keuntungan dunia masing-masing, tanpa peduli terhadap nasib mayoritas umat ini yang sedang didera berbagai kesulitan hidup, seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan kesulitan mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal yang layak. sementara mereka, tokoh, pemimpin, ulama, da’ dan seterusnya, khsusnya yang sudah bergabung dengan pemerintah atau yang berada pada linkarannya, baik sebagai eksekutif mapun legislatif dan sebagainya, ataupun yag mengandalkan jamaah, kelompk atau partai untuk memperkaya diri, hidup dengan berkecukupan dan bahkan berlebihan serta berfoya-foya dalam menikmati kehidupan dunia.

Mereka tega berjalan di jalanan dengan berbagai mobil mewah yang mereka beli dengan mudah. makan dan mengadakan pertemuan, rapat atau apapunlah namanya, di hotel-hotel berbintang. pelesiran ke luar negeri sambil membawa isteri. mengadakan pesta pernikahan dan sebagainya dengan menghabiskan uang ratusan juta rupiah dan berbagai gaya hidup lainnya yang cendrung berfoya-foya dan mubazir.

Kalau saja spirit tauhid tertanam kokoh dalam diri mereka, semua fenomena aneh tersebut tidak akan terjadi. karena tahuid mengajarkan pada kita bahwa hidup di duni ini hanyalah sementara. hidup akhiratlah yang abadi dan baka. di akhirat akan dimintakan pertanggung jawaban semua tingkah laku semasa kita di dunia. termasuk masalah harta, dari mana harta itu diperoleh dan kemana ia dibelanjakan.

Ingatlah, stempel-stempel syar’i yang kita bubuhkan, seperti untuk kemaslahatan dakwah, untuk kepentingan umat, dana ta’awun, dana sosial dan sebagainya, tidak akan ada gunanya di akhirat kelak selama mekanisme memperolehnya berlawanan dengan nilai-nilai tauhid yang datang dari Allah dan Rasul Muhammad saw.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد …

Menyaksikan segala fenomena ini, banyak orang bertanya-tanya. Di negeri yang subur makmur, terdiri dari puluhan ribu pulau, dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Masjid-masjidnya indah bertebaran di seluruh pelosok negeri, pesantren dan perguruan tinggi Islam ribuan jumlahnya. Ulama, kyai, muballigh bergelar profesor, doktor, bahkan santri penghafal Qur’an begitu banyak, jauh lebih banyak dari artis sinetron atau penyanyi dangdut. Mereka berdakwah melalui TV, media massa. Para kyai dan ulama yang tadinya hanya mengelola pesantren, kini banyak yang menjadi anggota legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Mengapa segala fasilitas kebaikan ini tidak memberi pengaruh positif bagi bangsa Indonesia? Laju kemungkaran, narkoba, pornoaksi di satu sisi; kemiskinan, bencana alam, penyakit epidemi, seakan telah menjadi kekayaan bangsa ini. Kriminalitas dan dekadensi moral terus saja menghantui kehidupan generasi muda. Tindak pidana korupsi, sekalipun ada UU anti korupsi dan ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tapi koruptor seakan tak habis-habisnya diberantas. Subhanallah!

Apa sesungguhnya yang terjadi pada masyarakat kita? Setiap tahun tidak kurang dari 200 ribu orang berangkat naik haji ke Baitullah, Makkah al-Mukarramah. Mereka yang masih memiliki akal sehat tentu bertanya-tanya, mengapa semakin banyak manusia Indonesia pergi menunaikan ibadah Haji, baik rakyat maupun kalangan pejabat, ternyata belum berpengaruh positif bagi perbaikan dan peningkatan kehidupan sosial rakyat negeri ini?

 

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Semua itu adalah musibah besar yang sedang melanda umat ini. semua itu adalah ancaman besar yang telah dan akan melumpuhkan dan membuat umat ini semakin terpuruk, tak berdaya, terpinggir, dan semakin terhinakan.

Namun demikian, sebagai umat yang memiliki ajaran tauhid yang menjadi fondasi yang terkokoh dalam membangun hidup dan kehidupan ini, kita dilarang berputus asa dari rahmat Allah, karena kita masih memiliki peluang untuk bangkit dari keterpurukan itu dan dijamin berhasil membangun izzah (kemulian) ummat ini kembali, jika saja kita memahami dan menerapak nilai-nilai tauhid yang dianut nabi Ibrahim dan nab kita Muhammad saw.

Dengan kata lain, kita harus kembali kepada ajaran tauhid yang dibawa oleh nabi Ibrahin AS dan nabi kita Muhammad saw yang berhasil mengangkat derajat dan martabat umat ini sepanjang lebih kurang 13 abad lamanya. jika tidak, kita akan tetap berada dalam kubangan keterpurukan dan kehinaan ini.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Tiga Karakter  Nabi Ibrahim yang termuat dalam doanya yang harus menjadi contoh dan teladan bagi kita diantaranya :

Pertama, Nabi Ibrahim as amat berharap agar dirinya terhindar dari kemusyrikan, Menurut Sayyid Quthb dalam tafsirnya: “Doa ini menampakkan adanya kenikmatan lain dari nikmat-nikmat Allah. Yakni nikmat dikeluarkannya hati dari berbagai kegelapan dan kejahiliyahan syirik kepada cahaya beriman, bertauhid kepada Allah swt.”  Karena itu, iman atau tauhid merupakan nikmat terbesar yang Allah swt berikan kepada kita semua sehingga iman merupakan sesuatu yang amat prinsip dalam Islam, Allah swt berfirman menceritakan doa Nabi Ibrahim as:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS Ibrahim [14]:35).

Yang ke Dua,Nabi Ibrahim as juga ingin memperoleh ilmu dan hikmah, sesuatu yang amat penting agar kehidupan bisa dijalani dengan mudah dan bermakna. Beliau juga meminta agar termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang shalih, ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi shalih. Selain itu meminta menjadi buah tutur kata yang baik bagi generasi kemudian sebagai bentuk penghormatan dan upaya meneladani. Puncaknya adalah meminta dimasukkan ke dalam surga hingga tidak terhina dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini tercermin dalam doa beliau:

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 83– 87).

Dari doa Nabi Ibrahim di atas, jelas sekali betapa pentingnya menjadi shalih sehingga orang sekaliber Nabi Ibrahim masih saja berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shalih. Manakala keshalihan sudah dimiliki, cerita orang tentang diri kita bila kita tidak ada adalah kebaikan. Karena itu, harus kita koreksi diri kita, seandainya kita diwafatkan besok oleh Allah swt, kira-kira apa yang orang ceritakan tentang kita.

Ketiga Hal penting lainnya dari harapan Nabi Ibrahim as adalah agar amal-amalnya diterima oleh Allah swt, termasuk orang yang tunduk dan taubatnya diterima oleh Allah swt, hal ini terdapat dalam doanya:

Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. QS. Al-Baqarah [2]: 127 – 129).

Akhirnya di khutbah yang singkat ini kita bermuhasabah,meluruskan aqidah dan mepemperbaiki akhlak kita,sekaligus koreksi total atas dosa serta kesalahan yang selama ini kita lakukan, karenanya setiap kita harus berjuang bersama agar kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa berada dalam ridha Allah swt. Akhirnya marilah kita berdoa:

 اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zhalim dan kafir.

 اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ يا مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian

 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

 

Ust. Aswaludin, SE., ME

Ust. Aswaludin, SE., ME

Disampaikan di masjid Darul Hikmah, Pondok Pesantren Yapidh

Jati Asih Bekasi

10 Dzul Hijjah 1437 H - 12 September 2016

[1] Dosen Univ Azzahra, Dai dan Mubaligh Ikadi dan Khairu Ummah Jakarta

WA 08158877562

author
No Response

Leave a reply "Keteladanan Kepribadian Nabi Ibrahim AS Untuk Solusi Permasalahan Ummat- Khutbah Idul Adha 1437 H"