Perdana Menteri Belanda Sebut Turki Berhak Diapresiasi

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte (foto: curacaochronicle.com)

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte (foto: curacaochronicle.com)

infoislami - Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengungkapkan bahwa Turki tidak bisa disalahkan dalam krisis pengungsi di Eropa. Hal itu disampaikan oleh PM Rutte dalam sidang kabinet Jum’at lalu, demikian menurut kantor berita Belanda, Algemeen Nederlands Persbureau yang dikutip Elsevier, Jum’at (5/2/2016). PM Rutte, “Turki telah berbuat banyak. Bahkan luar biasa. Kita dari Eropa malah masih ketinggalan dibanding mereka dalam urusan pengungsi.”

Dijadwal Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu akan ke Den Haag, Rabu (10/2/2016) akan berjumpa dengan PM Rutte membahas aliran pengungsi yang begitu deras. PM Rutte: “Saya tidak bisa menyalahkan mitra sejawat saya dari Turki itu. Mereka telah menampung 2,2 juta pengungsi. Turki tentu berhak untuk mendapatkan pengakuan—dan itu tepat—mereka telah berbuat luar biasa. Dalam beberapa tahun terakhir Turki seolah sendirian menghadapi masalah yang berat tersebut.”

Uni-Eropa dan Turki sudah sepakat untuk mengerem aliran pengungsi ke Eropa. Tetapi puluhan ribu pengungsi per bulan tetap masih masuk ke Eropa melalui Turki. Menurut PM Rutte perkembangan hasil kesepakatan tadi masih nampak lamban.

Uni-Eropa menjanjikan bantuan 3 milyar euro untuk memperbaiki kondisi kamp-kamp penampungan pengungsi di Turki dengan harapan para pengungsi dari Syria bertahan di sana sehingga tidak melanjutkan perjalanan ke Eropa. Jika kebijakan tersebut berhasil maka Eropa berjanji siap menerima pengungsi yang statusnya diproses tuntas di Turki. Tentu saja—menurut PM Rutte—jumlahnya tidak sebanyak yang sekarang.

PM Belanda penggemar nasi goreng Indonesia ini juga sangat prihatin dengan nasib pengungsi yang luar biasa jumlahnya dari Aleppo melarikan diri ke perbatasan Turki. Eksodus itu disebabkan serangan intensif pasukan rezim Al-Assad di sana. Menurut pemerintah Turki hari Jum’at itu saja telah berkumpul 15.000 pengungsi di perbatasan mereka yang menyelamatkan diri dari Aleppo.

Analisis Singkat

Pernyataan di atas terhadap Turki—yang saat ini merupakan salah satu kekuatan utama di Timur Tengah—oleh seorang pejabat Belanda setingkat perdana menteri—sangat historis. Selama ini belum pernah media mengutip seorang pejabat tinggi Belanda yang memberikan apresiasi semacam itu. Bahkan sebelum ini pernyataan-pernyataan pejabat tinggi Belanda khususnya dikalangan politisi dan pengamat cenderung kurang positif terhadap pemerintahan Erdogan. Terlepas sejauhmana ketulusan pernyataan tadi, hal itu sebuah fakta bahwa Turki memang berhak menerimanya. Bukan saja Turki, barangkali Saudi Arabia dan negara-negara Teluk lainnya telah menampung banyak para pengungsi dari Syria. Bedanya mereka segera diberikan status menetap sehingga tidak terhitung sebagai pengungsi.

Pernyataan PM Rutte itu dinilai cukup berani dan menyejukkan di tengah trend di kalangan populis di Belanda yang tidak menginginkan kedatangan para pengungsi. Mereka melakukan berbagai aksi protes, demonstrasi, ancaman, dan pemberitaan negatif media terhadap para pengungsi di pusat-pusat penampungan di Belanda semakin marak. Tidak itu saja, menurut penelitian WODC, pusat  riset ilmiah dan dokumentasi Kementerian Yustisi, dengan merujuk data tahun 2014 Belanda termasuk negara Uni-Eropa yang memiliki kebijakan imigrasi paling ketat (de Volkskrant, 3/2/2016).

Dibalik semua ini harapan itu masih ada bahwa Belanda akan kembali memainkan peran humaniternya yang historis yaitu menyelamatkan orang-orang atau bangsa lain dari penindasan. Para Huguenot sebagian menyelamatkan diri ke Belanda dari kejaran penguasa Katolik di Prancis. Belanda menampung para pengungsi Yahudi yang diusir dari Prancis abad ke-14 dan dari Spanyol abad ke-16 dan ke-17. Negeri ini juga menerima para Pilgrim Fathers yang meneruka Amerika yang melarikan dari Inggris dan bersembunyi di Leiden sebelum berlayar menuju Dunia Baru. Selepas Perang Dunia II Belanda bahkan menampung para aktivis dan politisi serta orang-orang kritis yang terusir dari negerinya. Diantaranya adalah para eksil Indonesia yang tidak bisa pulang di zaman Orde Baru. (islamicgeo)

author
No Response

Leave a reply "Perdana Menteri Belanda Sebut Turki Berhak Diapresiasi"