Rahasia Keyatiman Nabi Muhammad SAW

No comment 2700 views
anak yatim (illustrasi)

anak yatim (illustrasi)

infoislami – Bukanlah sebuah kebetulan jika Rasulullah SAW dilahirkan sebagai anak yatim. Juga, bukan kebetulan apabila pada usia 6 tahun beliau menjadi yatim piatu sepeninggal ibunya. Kemudian, pada usia 8 tahun beliau harus merelakan kepergian kakeknya ke alam baka, yang selama hidupnya selalu ia anggap sebagai “ayahnya”. Selanjutnya, beliau diasuh oleh Abu Thalib, pamannya yang hidup prihatin, hingga beranjak dewasa.

Dari gambaran sekilas ini kita bisa membayangkan betapa tumbuh kembang pertama kehidupan Nabi Muhammad SAW sangat memilukan untuk ukuran seorang anak kecil. Kesedihan demi kesedihan seolah bertubi-tubi melanda bocah cilik yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan asuhan kedua orang tua itu. Beliau menjadi anak yatim piatu di periode usia yang disebut oleh psikolog dan psikiater sebagai tahun-tahun pembentukan kepribadian anak.

Ternyata, Allah SWT memilihkan tumbuh kembang seperti ini untuk Nabi-Nya karena sejumlah hikmah yang luar biasa.

Hikmah pertama, agar tidak ada orang yang meragukan ataupun berprasangka buruk bahwa dakwah dan risalah Nabi Muhammad SAW bersumber dari ayah dan kakeknya. Pasalnya, Abdul Muthallib kakeknya merupakan pemuka Quraisy yang berwenang atas ar-rifadah dan as-siqayah (pemberian makan dan minum bagi jamaah haji). Bukankah wajar jika kakek mendidik cucunya, atau ayah mendidik anaknya, berdasarkan warisan leluhur yang hendak dilestarikan?

Hikmah kedua, agar beliau tidak terpapar pengaruh status "pemimpin" dan "pemuka" di lingkungan keluarganya yang dapat membuat kekudusan nubuwwah tercampur aduk dengan pengultusan duniawi. Dengan demikian, jelaslah bahwa agama yang beliau bawa bukanlah persoalan suku, keluarga, kepemimpinan, ataupun pangkat. Orang pun tidak bisa menuduh beliau berpura-pura menjadi nabi padahal beliau mengincar jabatan dunia.

Hikmah ketiga, agar Nabi Muhammad SAW diasuh langsung oleh pemeliharaan Allah SWT, jauh dari kemanjaan, harta benda, dan kenyamanan hidup. Dengan demikian, jiwanya tidak lembek ataupun cenderung pada harta benda ataupun martabat.

Hikmah yang keempat adalah agar umat Nabi Muhammad SAW menaruh perhatian yang besar pada anak yatim. Kita melihat betapa besar pengaruh keyatiman pada diri beliau di kemudian hari, sehingga kepedulian pada anak yatim menjadi salah satu topik dakwah sosial dan akhlak Islam. (dgon/infoislami)

author
No Response

Leave a reply "Rahasia Keyatiman Nabi Muhammad SAW"