Rahasia Penyusuan oleh Tsuwaibah dan Halimah

wetnursing-1

InfoIslami - Penyusuan anak oleh seorang ibu susu dengan upah mungkin terdengar aneh bagi kita di zaman sekarang. Namun, tidak demikian halnya di Makkah sekitar 1500 tahun yang lalu. Hal itu sudah menjadi tradisi warganya sejak lama. Nabi Muhammad SAW pun tidak terkecuali. Beliau bersama dua bayi sebaya lain di tengah keluarga besar Abdul Muthallib, yakni Hamzah bin Abdul Muthallib (paman Nabi SAW) dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthallib (saudara sepupunya), disusukan kepada ibu susu.

Mula-mula Muhammad bayi disusui Aminah ibunya sendiri selama beberapa hari. Selanjutnya beliau disusukan kepada Tsuwaibah Al-Aslamiyyah yang pada waktu yang sama menyusui Masruh putranya sendiri serta satu bayi lain, yaitu Abu Salamah. Konon, sebelum itu Hamzah pun sempat disusukan kepadanya. Lantas Abdul Muthallib kakek Nabi Muhammad SAW berinisiatif mencarikan ibu susu lain bagi cucu kesayangannya itu. Dan perempuan berikutnya yang beruntung mendapat kehormatan ini adalah Halimah binti Abu Dzu`aib As-Sa'diyyah.

Penyusuan Muhammad bayi oleh Tsuwaibah serta Halimah sudah popular diketahui dalam Sirah Nabi. Namun, apa kiranya hikmah yang terkandung di balik peristiwa ini? Tentu saja tidak ada yang kebetulan dalam semua kejadian. Pastilah ada rahasia yang menjadi alasan dipilihnya Tsuwaibah dan Halimah oleh Allah SWT sebagai ibu susu bagi nabi sekaligus utusan terakhir-Nya.

Perlu diketahui bahwa Tsuwaibah adalah mantan sahaya Abu Lahab, paman Nabi Muhammad SAW. Sang paman kelak dijanjikan dalam Al-Qur`an akan masuk neraka akibat permusuhannya terhadap Nabi SAW. Tahukah pembaca alasan Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah? Dia memerdekakannya lantaran saking bahagianya mendengar kabar dari budaknya itu tentang kelahiran Muhammad putra mendiang adiknya kesayangannya, Abdullah. Rupanya kematian Abdullah membuat Abu Lahab berduka cita. Tak ayal, kelahiran Muhammad putra Abdullah menjadi pelipur lara baginya. Nah, berkat penyusuan ini, nama Tsuwaibah tercatat dalam Sirah Nabi, dan pemerdekaan Tsuwaibah oleh Abu Lahab mengandung bukti bahwa kekafiran serta permusuhan beberapa paman Nabi Muhammad SAW terhadap beliau bukanlah lantaran mereka tidak menyukai pribadi beliau. Justru, beliau adalah keponakan kesayangan serta kebanggaan mereka. Entah apa isi hati dan otak mereka sehingga mereka langsung berubah 180 derajat ketika sang keponakan mengajak mereka kepada Islam.

Sementara Halimah tinggal di dusun Bani Sa'd bin Bakr yang berlokasi cukup jauh dari pusat kota Makkah, pedalaman yang udaranya masih bersih dan perilaku serta bahasa penduduknya masih murni. Empat tahun diasuh di sana, Muhammad bayi pun tumbuh pesat dari segi fisik, mental, dan emosional. Maklum, usia 0 hingga 4 tahun memang usia emas bagi perkembangan anak. Maka tidak heran jika kelak beliau bertubuh kuat, berotak cerdas, bertekad baja, dan berbahasa elok. Mungkin ada benarnya kata orang Arab: innal-murabba fil-muduni yakunu kaliladz-dzihni fatiral-'azimah (anak yang diasuh di kota akan menjadi tumpul pikirannya dan lemah tekadnya).

Demikianlah Allah SWT telah mempersiapkan segala sesuatunya bagi Nabi Muhammad SAW, termasuk penyusuan oleh Tsuwaibah dan Halimah. Setiap peristiwa kehidupannya sejak bayi hingga usia 40 memantaskannya menjadi sang pembawa risalah pamungkas.[] (dgon/infoislami)

author
No Response

Leave a reply "Rahasia Penyusuan oleh Tsuwaibah dan Halimah"