Menghafal Al-Qur’an Menjadi Pemicu Prestasi, Bukan Sebaliknya!!

ngafalinfoislami - Membuat program penghafalan al-Qur'an kini merupakan syiar Islam yang sungguh mulia. Kini, kesadaran umat akan urgensi menghafal dan belajar al-Qur'an mulai tumbuh. Entah itu di segmen anak-anak, remaja hingga dewasa. Tentu hal ini patut diapresiasi oleh kita semua sebagai subjeknya. Karena sudah lazim sebagai umat Rasulullah -sebagai penerima wahyu- kita harus melanjutkan mensyiarkan dan mendakwahkan ke tengah-tengah masyarakat luas, sehingga peran al-Qur'an sebagai panduan hidup tidak sirna dari tengah-tengah umat Islam.

 

Namun, seiring berjalannya waktu dan tumbuhnya kesadaran itu, sudah barang tentu harus dibarengi juga oleh semangat memahami peran al-Qur'an di tengah-tengah umat. Jangan berpandangan Al-Qur'an sebagai 'barang jualan' ataupun nilai-nilai mulia yang kemudian 'terkomersilkan' sehingga hilang keberkahannya. Kita tidak menutup mata terhadap fenomena yang kini tengah menjamur.

 

Banyak lembaga-lembaga al-Qur'an, komunitas ataupun institusi-institusi pendidikan yang 'menjual' program al-Qur'an sebagai pillot projectnya (keunggulannya). Meskipun program ini memang harus mendapatkan tempat di mana saja -termasuk dalam dunia pendidikan sekalipun. Tapi, tetap harus mengedepankan niat yang ikhlas, cara-cara yang tepat dan target-target yang realistis sehingga bisa tercapai target yang diidam-idamkan yang manghasilkan output yang ideal.

 

Fenomena yang kini menjamur sangat beragam. Sejauh yang kami amati, beberapa lembaga ada yang melaksanakan program tahfizh ini secara alami dengan mematok target yang realistis dan memberikan hasil yang memuaskan. Namun tidak sedikit yang memberikan program yang nampaknya kurang realistis. Sebagai contoh misalnya. Di musim liburan sekolah, ada yang membuat program sanlat (pesantren kilat) al-Qur'an dengan target tinggi. Mereka pasang durasi waktu 2 hari, 10 hari, 15 hari hingga 30 hari dengan target yang berbeda-beda.

 

Program yang dibuat dengan target tinggi yaitu 15 hari dengan capaian hafalan 10 juz selama liburan, memang nampak kurang realistis. Setidaknya di mata para penghafal al-Qur'an yang sudah lama berkecimpung dalam dunia tahfizh. Atau target 30 juz selama 30 hari dengan asumsi peserta sudah punya modal hafalan al-Qur'an sebanyak 2 juz. Sementara materi motivasi menghafal, seluk-beluk tentang otak dan metode atau cara yang digunakan terbilang minim, maka hasilnya pun pasti tidak maksimal. Bahkan terkesan 'memaksakan diri'.

 

Akibatnya bisa 'fatal'. Kalau segmen pesertanya adalah anak-anak sekolah, maka cara seperti ini bisa membuat anak mudah merasa bosan, monoton, terbebani dan lainnya sebagainya. Atau dampak negatifnya, si anak akan bete' dengan al-Qur'an dan tidak mau lagi menghafal al-Qur'an pasca sanlat atau karantina tersebut. Karena terus terang, ketika menghafal al-Qur'an ini perlu persiapan yang mencukupi, terutama bekal untuk anak. Misalnya, pengetahuan tentang keutamaan menghafal dan menjadi penghafal al-Qur'an, nikmatnya menghafal al-Qur'an, kelebihan otak manusia dibanding otak binatang. Dan lain sebagainya.

 

Hasil yang realistis akan terlihat ketika di perjalanan menghafal dan selesai mengikuti program tersebut. Target yang di awal dipasang 10 juz 30 juz, bisa jadi hanya bisa tersetor hafalan 2 sampai 3 juz saja. Itupun dengan kualitas yang pas-pasan. Sedangkan untuk memaintance (murojaah) masih sangat panjang. Setidaknya butuh waktu berbulan-bulan hingga bertahun untuk memutqinkannya (melancarkannya).

 

Dan memang, nilai positifnya, membiasakan anak untuk dekat dengan al-Qur'an, hidup mandiri, mengenal banyak teman-teman baru dan mengukur kemampuan memori mereka. Di samping, masa-masa keemasan mereka memang masih sangat panjang dan hebat. Tapi, tetap saja antara target, metode dan motivasi harus sejalan seiring sehingga hasilnya memuaskan dan setidaknya memberikan hasil positif dan memberikan pengaruh yang kuat pada diri masing-masing anak. Sebagai orangtua tentu kita ingin buah hati kita menjadi generasi yang kuat dengan lancarnya hafalan al-Qur'an mereka, yang akan memberikan dampak positif pada akhlak mereka ke depan di tengah kebobrokan moral generasi sekarang.

 

Program-program tersebut patut diapresiasi dan tentu ke depannya perlu mendapat masukan dan perhatian para pengelola, bahwa sesungguhnya al-Qur'an ini dengan segala kebutuhan kita terhadap al-Qur'an sangat mulia dan ia adalah hidayah (petunjuk Allah). Dan Allah pasti akan menyeleksi dari kalangan hamba-hamba-Nya yang mau berusaha, ikhlas dan sungguh mengemban misi menjadi pengawal kitab-Nya ini. Sehingga makin memperbanyak generasi yang Qur'ani, kuat dan memimpin masa depan Islam ke depannya. Wallahu A'lam (sqc)

Ust. Hidayatullah, MA

Ust. Hidayatullah, MA

author
No Response

Leave a reply "Menghafal Al-Qur’an Menjadi Pemicu Prestasi, Bukan Sebaliknya!!"